Minggu, 31 Januari 2016

Untukmu

Oh Tuan... perasaanmu seperti teka-teki. Bagaimana aku tahu bila kamu tak menggambarkannya terlebih dahulu? Semisal 5 kotak ke kanan, berawalan C lalu berakhiran dengan A atau mungkin 5 kotak menurun, berawalan T lalu berakhiran N, atau apalah bentuknya. Bagaimana aku tahu jika kamu terus menerus diam. Jika kamu tidak mau berbicara dengan mulutmu, berbicaralah lewat matamu. Tolong jangan menatapku kosong... seolah-olah aku tidak ada, seolah-olah aku tidak tampak. Matamu begitu dalam bagaikan laut, membuatku ingin tenggelam di sana. Tapi aku tidak akan tenggelam jika tak diizinkan. Jadi tak perlulah menatapku jika itu hanya pertemuan hampa bagimu.

Jumat, 29 Januari 2016

Angin

Kau yang hatinya rapuh, jangan pernah jatuh cinta pada Angin. Angin bisa membuatmu jatuh juga terhempas. Angin bahkan pergi kemana pun dia suka. Angin selalu begitu. Saat kau terpesona oleh kelembutan udara yang di bawanya, dia hanya berhembus, dan kembali berhembus entah kemana. Kau tahu kan kau bahkan tidak bisa menyentuh Angin sedikit pun. Kau hanya bisa merasakannya saat kau menutup mata, dalam mimpimu, dan saat kau buka mata yang kau lihat hanyalah dirimu sendiri.

Jika tak cukup kuat, jatuh cintalah pada yang lain saja... atau mungkin, ternyata kau sendiri yang menjadi Anginnya? Angin yang tak pernah di lihat sang mata. Angin yang selalu memperhatikan. Angin yang ingin menghampiri... namun seperti berlari. Angin bingung harus bagaimana. Namun Angin kembali, hanya karena... rindu. Angin selalu begitu. Berharap Tuhan mendengarkan doanya, agar kau bahagia dengan atau tanpa dia.